Total Tayangan Halaman

Kamis, 26 Maret 2015

Keindahan dan Ketiadaan

Dalam keindahan hati banyak ketiadaan hadir. Kenangan begitu mengesankan tak akan terganti oleh apa pun. Bayangan hadir dalam lebatnya hujan. Setetes demi setetes kencang tak ada penghalang langitmelimpahi bumi. Begitulah kondisi memberikan kesejukan. Panas bumi dan hati tersejukan membasahi. Aku ada dirintikan mendinginkan isi kepala lama berpikir tentang keindahan dan ketiadaan. Berlari ku untuk apa, bila tiada tujuan ku. Kau menghilang rasa, itulah rasa apa pun itu bentuknya akan menghilang. Bukan kamu tak cinta aku sebelumnya, rasa mu saja berubah kini membenci. Aku masih tetap yang sama, mencinta mu dan berharap rasa cinta itu kembali datang.

Jalan ku pada mu tiada. Hati mu masih mengenal hati mu sendiri. Malam ku pun terpisah panjang tanpa pertemuan kita. Mengenang keindahan mu adalah aku dikesendirian. Aku merasa indah saat kita bersama.

Teruntuk Syeikh Hisyam Nizami

Telah ku baca Layla Majnun. Bagi ku karya puitis mu terluar biasa. Aku merasa bagai candu dan tak merasa bosan untuk mengulang kata demi kata. Bahkan kalimatnya pun ku pahami tersirat sekali dan aku ulangi berkali-kali. Tak bosan aku membacanya. Ada keindahan ditulisan romantis mu. Aku yakin itu wahyu malaikat Jibril membisikan bahasa keindahan cinta. Aku terlelap bagai bulu merpati kuyup tak berkutik dengan air sekujur tubuh. Salah jikalau Karl Marx menganggap agama adalah candu, puitis engkaulah membuat percintaan pahit terasa manis, getir menjadi nikmat. Sekuat hati kau tuliskan, aku terkesan dan candu bagi umat manusia. Kaulah keadaan ku bila mungkin sekarang ini. Aku ingin memisahkan hati dan pikiran. Antara hayalan kecintaan dan kenyataan hidup yang tentu berbeda. Aku terlahir mungkin bukan untuk dicintai, namun aku tetap selalu akan mencinta. Aku mencoba menyimpannya layaknya permata. Aku simpan dan aku tuliskan bahwa cinta itu memang ada. Kenangan itu memang ada. Masa lalu penuh keindahan dan itu benar adanya. Aku merasa dan pernah bersama mu memang itu ada.

Syeikh persembahan tulisan ini terinspirasi karena mu. Aku memang mengenal mu dan tidak mengenang mu. Bisa saja saat ini akulah Majnun yang kau telah tuliskan dalam ratusan tahun yang lalu.

Gumpalan Salju

Pagi Indah. Aku sembunyi dibalik ranting rapuh. Kepakan ku sudah lemah. Aku perkirakan akan tiga bulan salju menyelimuti semak-semak belukar. Terhentilah aku untuk terbang. Gundukan salju menelantarkan aku sendiri. Apa kehidupan mencari kesepian hati. Bersembunyi dan melupakan kebahagiaan. Semua senyap melewati dingin menelan hangat. Aku terjebak waktu masa lalu dengan mu. Mestinya aku terbang meninggalkan tempat ini dan mengacuhkannya. Keadaan tidak menyenangkan selama mengejar mu. Aku tertinggal dan kau dengan lainnya. Engkau sudah terbang meninggalkan tempat bersalju ini. Tak terkira hati ku lemah dan terjebak pada keropos pohon tumbang. Aku dan gundungan salju menjadi teman. Aku harap begitu, jika tidak akan membekukan kulit dan jantung ku. Teman mendinginkan dada, api ku hanya merindu meluapkan sendiri. Ku berharap berganti musim dan hati ku membaik.

Setia Hati

Hati menjadi teman. Semua menjauh dan hanya dekat ada di dada. Gerakan hati sematkan diri berlalu sendiri. Ada waktunya menghilang tanpa seorang pun tahu. Aku mengembara mengeluarkan kesenangan hidup baru. Aku mengelilingi pantai, bermain di pasir, menatapi kejauhan laut tak bertempi. Merasa ada yang datang dan pergi adalah kewajaran. Ada dicintai dan mencintai adalah wajar apa adanya. Menjadi sendiri dan ditengah keramaian adalah alamiah. Tak seroang pun tahu hati setia seperti apa. Bila saja dunia ini penuh curiga dan tiada kesetiaan akan kacau keadaan bumi. Tiada hati yang hidup tanpa setia. Tanpa teman mungkin lebih baik bila mengecewakan atau khianatinya. Melupakan hati sebagai teman adalah kebohongan. Aku tak ingin melupakan hati. Seiring waktu aku melangkah dan tak seorang pun tahu kesungguhan hati bukan pada berkata setia, cinta, dan janji. Aku tak mau melupakan hati ku yang merupakan kehidupan selalu menghidupkan. Aku senang ada pada kesendirian dan berlalu menuliskan keadaan semu. Aku kan mendekati gerak tanpa arah namun aku merasa masih ada disana.Rasa dalam hati dapat mengenalinya.

Rabu, 18 Maret 2015

Bintang Ku

Kamu tak terganti oleh apa pun. Semua tahu kecantikan mu mematikan akal sehat. Kesadaran ku menghilang itu karena mu. Gairah apa aku tidak tahu begitu menggilanya. Detak jantung bergetar menghilangkan hati gundah. Aku penakut saat menatap mu. Ada sedikit wanita dapat membuat ku begitu asing bahwa keindahan tak tersentuh memang ada. Aku hanya dari kejauhan saja. Biar bintang menjadi bintang dan aku tak tahu bagaimana bisa menggapainya. Aku perhatikan hanya malam. Begitu juga diri mu, hanya aku hayalkan tanpa terang benderang.

Cahaya pagi tidak pernah ku rasa. Ku yakini, aku hilang ingatan. Semua menjadi jenuh di dada. Bintang ku malam ini tiada dan engkaulah penggantinya.

Selasa, 17 Maret 2015

Siapa Aku?

Sayang ku. Aku tidak tahu siapa aku. Mungkin engkau mengetahui siapa aku? Aku juga mencari tahu diri ku sendiri ku siapa. Pertanyaan yang sama tentang cinta ku berdasarkan apa pada mu. Bukan harta mu atau perhatian mu. Bagi ku backer jam ku sudah cukup. Aku ingin kamu sebagai pemberi tahu aku siapa. Kadang kemarahan menolak rasa rindu. Bagai empedu pecah terkena hati dan melupakan sayang. Ku melepas rasa marah dan melepaskan keindahan untuk menemani mu. Memeluk mu adalah marah ku. Sungguh aku peluk dan tak ingin meninggalkan mu.

Ku pernah kehilangan mu dan aku bagai ikan kehilangan air. Waktu cepat pun terasa lama meletih tanpa udara. Aku tidak mengetahui diri ku siapa bila tanpa diri mu. Aku tahu, aku adalah pemarah, penyayang, perindu yang tak ingin jauh dari mu. Aku ingin memeluk mu selamanya.

Senin, 16 Maret 2015

Aku Kematian dan Kehidupan

Kelopak kini melayu di ujung surga. Suara kini berubah jadi mimpi. Aku tak tahu itu keindahan atau kekacauan. Aku hanya kelopak sedang melayu. Aku ada dan kau menghilang. Kekosongan penuh keadaan hampa dibutiran air. Tetesan dan alirannya tak dapat menghidupkan ku. Aku ketiadaan. Kiasan mimpi semakin memudar. Engkau memang tiada, kau meninggalkan tanpa tahu perlu ku mengerti. Senang ku tertahan pada ketiadaan mu.

Kuncup aku tak mengerti. Mengapa ada lagi dan tiba menghampir dahan hati. Berlama tanpa mu entah kemana waktu membawa ku. Melewati musim dingin berlalu tanpa hangat. Aku mati, aku mati, aku mati. Engkau pun menghilang bergulirnya waktu. Apakah aku sedang mati? Aku bertanya tanpa teman. Semua menghilang menyimpan kesan baik. Kilauan apa hendak aku cari. Cinta? Aku tak tahu cinta bila tanpa kesetiaan. Aku tak tahu kehidupan tanpa tahu kematian. Aku telah mati. Air apa yang membangkitkan aku. Sinaran apa membangunkan aku. Semua tertidur dan hanya aku terbangun. Kesendirian saja hidup ini. Semua menghilang dalam rasa.

Kematian ku kini tak ada tahu dari mana kehidupan itu ada. Aku tersinari, aku terbangkitkan. Aku kematian dan kehidupan tanpa pengetahuan. Sinaran ini tiba di dada ku. Aku mati dan hidup beriringan.