Total Tayangan Laman

Jumat, 07 Juni 2013

Strukturalisme Puitis

Hari ini aku mengatakan "salah" kepada teman ku. Aku tak menyukai kata itu terungkap apa lagi dalam penjelasan filosofis. Engkau tahu pemikiran strukturalisme. Sungguh menyulitkan dalam benaknya. Ia berusaha untuk mengerti pemikiran apa itu strukturalisme. Pierre Bourdieu filosof pos-modern dengan pemahaman yang ia dapat mengerti. Aku pelajari selama satu harian, dan mendapatkan pengertian-pengertian tentang strukturalis yang dimaksudkan. Aku menjelaskan tentang konsep strukturalisme secara menyeluruh. Memberatkan sekali terlihat pada wajahnya dan bicara tidak begitu fokus. Terlihat dan terlihat. Aku padanya bahwa mengerti tentang Bourdieu butuh pengerti Fenomenologi dari Husser, Lavin-Strauss dengan pengertian strukturalismenya, Durkhem tentang teori sosiologinya, Karl Marx sosialisme, semua itu dibutuhkan untuk mengerti. Bila ia tidak mengerti asal pemikiran semua akan tidak dapat mengerti tentangnya. Aku katakan padanya sekali lagi "salah" padanya. 
Aku tak pernah mengatakan "salah" pada mu kan? Kali ini dengan kata "salah" mungkin aku memotong tujuan pemikirannya bercabang. Berulang kali aku katakan "salah" padanya. Sebab terlalu panjang sekali ketidakmengertian tentang asal muasal pengertiannya tentang Bourdieu. Kelokan pemikiran telah mengguncang pengertian-pengertiannya. Banyak rumusannya yang diutarakan pada ku bahwa ketidakmengertian semata. Ia mengerti kerangka, dan justru menjelaskan secara tidak memiliki kerangka. Apa yang dapat aku lakukan? Selain menjelaskan kerangka pemikiran Bourdieu dengan asal muasalnya, ternyata asal muasal pemikirannya tidak dimengerti juga. Penjelasan panjangnya aku katakan "salah" sekali lagi.
Strukturalisme adalah pengertian tentang dunia subjektif telah terstruktur dalam pikiran dan pikiran merupakan selain bagian-bagian struktur objektif. Engkau akan tertawa bila tidak mengertinya, sebab aku pun akan tertawa. Pernah engkau mendengar ungkapan seorang jabariyah tentang tuhan? Sungguh hampir sama, tapi strukturalisme tidak membicarakan Tuhan. Mereka membicarakan semesta adalah mempengaruhi manusia begitu juga sistem yang berada di bumi ini dan tiada lagi manusia sebaik 'aku.' Layaknya 'aku tiada selain kamu.' 'Tiada aku selain kamu.' Aku mempunyai alasan, bagi ku cinta adalah strukturalisme romantis pada pecinta akan kekasihnya, pencinta pada kebendaan, pecinta akan apa saja, bentuk lainnya.

Aku terjebak pada strukturalis puitis. Entah apa yang akan ku lakukan setelah ini selain mencintai mu saja. Kau jangan tanyakan aku mencintai mu karena apa, aku sudah berada bersama mu, mengabiskan waktu bersama. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar